Saku dompetku sedang drama sejak pandemi, begitu juga dengan rutinitas skincareku. Dulu aku sering bingung memilih antara skincare Korea yang katanya lengkap dengan rangkaian ritualnya, atau produk natural yang terlihat simpel namun menjanjikan. Kulitku termasuk kombinasi sensitif-kering di beberapa bagian dan agak berminyak di zona T saat cuaca panas. Aku sering merasa seperti sedang menimbang pasangan ideal antara kilau kaca dan kenyamanan kulit. Akhirnya aku menata ulang prioritas: tujuan kulit yang sehat, bahan yang ramah, dan sensasi ritual yang tidak bikin pusing. Inilah cerita tentang bagaimana aku belajar memilih produk yang cocok, dari jenis-jenis produk hingga perbandingan antara skincare Korea dan produk natural, dengan beberapa langkah kecil yang membuatku tetap manusia dan tidak sekadar robot review produk.
Melacak Titik Awal: Apa Tujuan Skincareku?
Tujuan utamaku bukan sekadar mendapatkan ‘glow’, melainkan menjaga barrier kulit tetap utuh, menghidrasi tanpa membuat kulit terasa berat, dan menghindari iritasi akibat fragrance atau bahan kimia keras. Aku mulai dengan bertanya pada diri sendiri: apa masalah utama sekarang? Apakah kulitku terasa kering setelah mandi air dingin pagi tadi, atau di siang hari terasa berminyak berlebih karena udara yang lembap? Aku juga mencoba menyesuaikan rutinitas dengan musim: di kota beriklim panas lembap, aku butuh produk yang ringan namun tetap melembapkan; saat hujan, aku menginginkan tekstur yang lebih tahan lama tanpa membuat kulit terasa pori-pori tersumbat. Pelan-pelan aku belajar membaca kulitku seperti membaca catatan harian kecil: ada hari di mana cleanser ringan cukup, ada hari ketika aku butuh serum dengan konsentrasi bahan aktif tertentu. Dan tentu saja, aku belajar untuk tidak terlalu serius menilai diri sendiri jika pagi hari kulitku sedang bergelombang; cukup menenangkan diri, mencoba lagi malamnya, dan tidak menyerah pada godaan diskon besar yang membuat dompet menjerit.
Jenis Produk yang Perlu Dimiliki Sehari-hari
Ritual dasar yang aku pertahankan sekarang tidak terlalu panjang, tapi cukup lengkap untuk menjaga kulit tetap nyaman. Pertama adalah cleanser yang lembut, satu tahap pembersihan yang tidak mengikis minyak alami. Kedua, toner yang menambah hidrasi tanpa membuat kulit terasa kesat. Ketiga, serum atau ampoule dengan bahan aktif yang menargetkan kebutuhan kulitku pada saat itu, misalnya anti-iritasi, anti-inflamasi, atau hidrasi ekstra. Keempat, moisturizer yang ringan namun cukup mengunci kelembapan, sehingga kulit terasa tidak kering meski AC menyala sepanjang hari. Kelima, sunscreen setiap pagi untuk melindungi dari sinar UV yang bisa menambah pigmentasi. Itulah rangkaian inti yang praktis dan tidak bikin ruwet. Terkadang aku menyelipkan masker wajah 1–2 kali seminggu kalau rasanya kulit butuh maintenance ekstra, misalnya saat kulit terasa lelah setelah seminggu penuh begadang untuk deadline kerja. Suasana ruangan terasa jadi bagian dari ritual: aku menata produk di rak kecil, menyalakan lampu hangat, dan menilai textures ala tester yang akhirnya jadi favorit. Ada juga momen lucu ketika aku salah membaca ukuran produk dan ternyata botolnya lebih besar dari yang kubutuhkan—aku malah semangat mencoba 3 minggu tanpa beli refill dulu, sambil tertawa sendiri karena pola belanja kulitku terlalu dramatis.
Saat aku mulai serius, aku memeriksa daftar bahan lebih seksama. Aku ingin bahan yang lembut, tetap efektif, dan tidak memicu reaksi negatif. Aku sering mencari rekomendasi dari komunitas kulit sensitif, dan untuk referensi yang cukup membantu, aku sering membaca blog yang membahas pengalaman nyata: quynhvihouse. Karena itu, aku tidak selalu ikut-ikutan tren; aku mencoba menilai apakah bahan-bahan seperti ceramides, asam hialuronat, centella asiatica, atau niacinamide benar-benar cocok dengan kulitku. Suportif banget rasanya ketika kulit akhirnya merespons dengan tenang—warna kemerahan mereda, pori-pori tidak lagi terlihat menyebalkan, dan tekstur kulit terasa lebih halus. Setelah beberapa bulan eksperimen, aku mulai bisa membedakan antara “produk wira-wira” dan “produk kerja keras” yang benar-benar memberi efek nyata pada kulitku.
Skincare Korea dan Natural: Mana yang Cocok untuk Aku?
Skincare Korea sering datang dengan semangat tiga hal: rutinitas bertahap, fokus pada barrier, dan bahan aktif yang teruji. Banyaknya langkah bisa bikin aku merasa seperti sedang mengikuti alur drama seri: kedengarannya seru, tapi kadang bikin bingung ketika kelelahan. Aku mulai mencoba versi sederhana dari rutinitas Korea: cleanser, toner, satu serum dengan bahan yang relevan, moisturizer, dan sunscreen. Tentu saja, aku tidak menghindar dari produk dengan tekstur berbeda: some days aku suka essence ringan, other days aku memilih serum gel yang cepat meresap. Sifat produk Korea yang cenderung difokuskan pada layering membuatku belajar mendengar kulit: jika terasa berat, aku turunankan dengan moisturizer yang lebih ringan atau mengurangi satu langkah. Di sisi lain, produk natural memberiku rasa tenang karena biasanya sederhana dan minim pewangi. Aku menikmati bahan-bahan yang terasa dekat dengan alam: tea tree untuk area yang sedang beruntun jerawat kecil, centella untuk menenangkan, atau minyak ringan untuk bibir dan area hidung yang kering. Namun aku juga sadar bahwa produk natural kadang tidak cukup kuat untuk masalah tertentu, misalnya pigmentasi atau bekas jerawat yang lama. Kombinasi keduanya terasa oke: tidak semua produk Korea perlu dipakai setiap hari, bisa diatur sesuai kebutuhan kulit, sementara produk natural menjaga kulit tetap “ramah” tanpa beban kimia berat. Ketika aku bertanya pada diri sendiri apakah lebih dekat ke Korea atau natural sebagai gaya hidup, jawabannya sederhana: aku memilih apa yang kulitku butuhkan hari itu, tanpa memandang label merek.
Yang penting adalah kenyamanan, tidak berlebihan, dan konsistensi. Aku belajar menuliskan catatan harian skincare—apa yang dipakai, bagaimana kulit bereaksi, dan bagaimana perasaan setelahnya. Kadang aku juga memilih produk yang kemasannya ramah lingkungan, karena aku ingin menjaga bumi sambil menjaga kulit. Jika kalian merasa bingung seperti aku beberapa bulan lalu, mulailah dengan langkah kecil: pilih satu cleanser, satu moisturizer, dan satu sunscreen selama dua minggu. Lalu tambahkan satu produk lagi jika dirasa perlu. Tentu saja, perhatikan reaksi kulit dan jangan ragu berhenti jika ada tanda iritasi. Pada akhirnya, kita tidak perlu jadi sebagai ahli kulit; cukup sebagai sahabat kulit kita sendiri yang peduli dan sabar. Dan ya, kadang kita bisa tertawa kecil karena kulit kita pun kadang bersikap lucu—seperti sedang menguji kita dengan kilau berlebih di hari-hari tertentu atau reaksi minor terhadap scent sederhana yang dulu terasa ‘menenangkan’ tetapi sekarang terasa terlalu kuat. Itu semua bagian dari proses belajar mencintai kulit kita sendiri.
